Jumat, 15 Juli 2011

Hepatitis

1) DEFINISI

Hepatitis adalah infeksi sitemik yang dominan menyerang hati. Dikatakan hepatitis kronik apabila lama terjadi infeksi persisten virus hepatitis lebih dari 6 bulan (Sudoyo et all., 2007).

Jenis virus hepatitis non-B kronik meliputi hepatitis virus C dan D. Hepatitis C virus (HCV) merupakan virus RNA rantai tunggal, sferis , inti nukleokapsid 33nm, termasuk klasifikasi Flaviridae, genius Hepacivirus, terdiri dari 9400 nukleotida mengkode protein besar sekitar residu 3000 asam amino. Hepattis D virus (HDV), merupakan virus RNA tidak lengkap memerlukan bantuan HBV untuk replikasinya, satu stereotype, sferis, diselubungi oleh lapisan lipoprotein HBV (HBsAG), mengandung antigen nuclear phospoprotein (HDV antigen), rantai tunggal, mengandung 1680 nukleotida, replikasi hanya dihepatosit. (Sudoyo et all., 2007).

2) EPIDEMLOGI

Menurut Sudoyo et all tahun 2007 epidemiologi HCV dan HDV sebgai berikut:

a. Hepatitis C virus (HCV)

i. Masa inkubasi 15-160 hari (puncaknya sekitar 50hari)

ii. Viremia yang berkepanjangan dan infeksi yang persisten umum dijumpai (55-60%), distribusi georafik luas.

iii. Infeksi yang menetap dihubungkan dengan hepatitis kronik, sirosis, dan karsinoma hepatoseluler

iv. Cara transmisi: predominan darah (IVDU, penetrasi jaringan, resipien darah), transmisi seksual, maternal neonatal death

b. Hepatitis D virus (HDV)

i. Masa inkubasi 4-7 minggu

ii. Insidensi berkurang dengan pemakaian vaksin

iii. Viremia singkat (nfeksi akut) atau memanjang (infeksi kronik) dan berkembang menjadi hepatitis kronik yang berat dan sirosis.

iv. Infeksi HDV hanya terjadi pada individu dengan risiko infeksi HBV (koinfeksi atau superinfeksi), IVDU, homoseksual atau biseksual, resipien donor darah, pasangan seksual.

v. Cara penularan melalui transmisi darah, transmisi seksual, penyebaran maternal-neonatal.

3) PATOFISIOLOGI

Sistem imun bertanggung jawab terhadap terjadinya kerusakan sel hati melibatkan respon CD8 dan CD4 sel T, produksi sitokinin di hati dan sistemik. Efek sitopatik berlangsung dari virus pada pasien imunosupresi dengan replikasi tinggi (Sudoyo et all., 2007).

4) GEJALA DAN TANDA

Sindrom klinis yang mirip pada semua virus penyebab mulai dari gejala prodromal yang nonspesifik dan gejala gastrointestinal meliputi malaise, anoreksia, mual, muntah. Gejala flu, faringitis, batuk, coryza, fotophobia, sakit kepala, dan mialgia, dengan awitan gejala cenderung insidious. Ikterus didahului dengan kencing berwarna gelap, pemeriksaan fisik menunjukkan pembesaran hati dan nyeri tekan pada hati, limfadenopati pada 15-20% pasien, splenomegali (Sudoyo et all., 2007).

5) Terapi

Pengobatan menggunakan interferon alfa 2-3 kali seminggu 3juta IU subkutan, atau 1,5ug/kgBB/kali. dan ribavirin <50kg 800mg setiap hari, 50-70kg 1000mg, setiap hari, dan >70kg 1200mg setiap hari dibagi dalam 2 kali pemberian. Efek samping interferon adalah demam, gejala flu like sindrom. Kontraindikasi interveron dan ribavirin adalah adanya gangguan jiwa yang berat, gangguan ginjal, karena dapat memperberat keondisinya (Sudoyo et all., 2007).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar