1) DEFINISI
Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit (red cell mass) sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer ( penurunan oksigen carrying capacity). Ditunjukkan oleh penurunan kadar hemoglobin, disusul hematokrit dan hitung eritrosit (red cell count) (Sudoyo et all., 2007).
Kriteria anemia menurut WHO (dikutip dari Hoffbrand AV, 2001) menurut kelompok jenis kelamin laki-laki dan perempuan serta wanita hamil sepert pada tabel.3
Tabel.3 kriteria anemia berdasarkan WHO
| kelompok | Kriteria anemia (Hb) |
| Laki-laki dewasa | <13 mg/dl |
| wanita dewasa tidak hamil | <12 mg/dl |
| Wanita hamil | <11 mg.dl |
(Sudoyo et all., 2007).
2) ETIOLOGI DAN KLASIFIKASI
Pada dasarnya anemia disebabkan oleh karena: (a) gangguan pembentukan eritrosit oleh sumsum tulang, (b) kehilangan darah keluar tubuh (perdarahan), (c) proses penghancuran eritrosit dalam tubuh sebelum waktunya (hemolisis).
Klasifikasi anemia menurut etiopatogenesis:
a) Anemia karena gangguan pembentukan eritrosit di dalam sumsum tulang
i) Kekurangan bahan esensial pembentuk eritrosit
(1) Anemia defisisensi besi
(2) Anemia defisiensi asam folat
(3) Anemia defisiensi B12
ii) Gangguan penggunaan besi (utilisasi)
(1) Anemia akibat penyakit kronik
(2) Anemia sideroblastik
iii) Kerusakan sumsum tulang
(1) Anemia aplastik
(2) Anemia mieloptisik
(3) Anemia keganasan hematologi
(4) Anemia diseritropoetik
(5) Anemia sindrom mielodisplastik
Anemia akibat kekurangan eritropoeitin: anemia pada gagal ginjal kronik
b) Anemia akibat hemoragi
i) Anemia pasca perdarahan akut
ii) Anemia pasca perdarahan kronis
c) Anemia hemolitik
i) Anemia hemolitik intrakorpuskuler
(1) Gangguan membrane eritrosit (membranopati)
(2) Gangguan enzim eritrosit (enzimopati): anemia akibat defisiensi G6PD
(3) Gangguan hemoglobin (hemoglobinopati)
(a) Thalassemia
(b) Hemoglobinopati structural: HbS, HbE, dll
ii) Anemia hemolitik ekstrakorpuskuler
(1) Anemia hemolitik autoimus
(2) Anemia hemolitik mikroangiopati
(3) Lain-lain
d) Anemia dengan penyebab tidak diketahui dengan pathogenesis yang komplek
(Sudoyo et all., 2007).
Klasifikasi anemia berdasarkan morfologi dan etiologi
1) Anemia mikrositik hipokromik
a. Anemia defisisensi besi
b.Anemia akibat penyakit kronik
c. Anemia sideroblastik
d. Thalassemia major
2) Anemia normositik normokromik
a. Anemia pasca perdarahan akut
b.Anemia aplastik
c. Anemia hemolitik didapat
d. Anemia akibat penyakit kronik
e. Anemia pada gagal ginjal kronik
f. Anemia sindrom mielodisplastik
g.Anemia keganasan hematologi
3) Anemia makrositik
a. Bentuk megaloblastik
i. Anemia defisiensi asam folat
ii. Anemia defisiensi B12, termasuk anemia pernisiosa
b.Bentuk non-megaloblastik
i. Anemia pada penyakit hati kronik
ii. Anemia pasa hipotiroidisme
iii. Anemia pada sindrom mielodisplastik
(Sudoyo et all., 2007).
Penyebab defisiensi besi disebabkan oleh: asupan, penurunan absorbsi, peningkatan kebutuhan (kehamilan dan menyusui), perdarahan (gastrointestinal, menstruasi, donor darah), hemoglobinuria, sequestrasi zat besi (hemosiderosis pulomnary) (Stephen, 2007).
3) PATOFISIOLOGI DAN GEJALA
Gejala umum anemia adalah sindrom anemia. Gejala umum ini timbul karena: (1) anoksia organ, (2) mekanisme kompensasi tubuh terhadap berkurangnya daya angkut oksigen.
a) Gejala umum anemia
Sindrom anemia, iskemia organ target, penurunan <7g/dl, lemah, lesu, cepat lelah,telinga mendenging (tinnitus), mata berkunag-kunang, kaki terasa dingin, sesak nafas, dan dyspepsia. Konjungtiva, mukosa mulut, telapak tangan, bawah jaringan kuku pucat
b) Gejala khas
Anemia defisiensi besi:
Disfagia, atrofi papil lidah, stomatitis angularis dan kuku sendok (koilonychia)
(Sudoyo et all., 2007).
4) PEMERIKSAAN
a.Pemeriksaan laboratorium:
Serum iron, TIBC (total iron binding capacity), saturasi transferin, protoporfirin eritrosit, feritin serum, reseptor transferin dan pengecatan besi pada sumsum tulang (Perl’s stain)
(Sudoyo et all., 2007).
5) TERAPI
Terapi yang khas sesuai dengan jenis anemianya mikrositik hipokromik. Transfusi diberikan pada anemia pasca perdarahan akut dengan tanda-tanda gangguan hemodinamik. Pada anaemia kronik, transfusi hanya diberika jika anemia bersifat simtomatik atau adanya ancaman payah jantung. Diberikan packed red cell , jangan whole blood. Dengan tetesan pelan. Pada anemia kering sering dijumpai peningkatan volume darah.Dapat juga diberikan diuretika kerja cepat seperti furosemid 10-40mg IV/PO, sebelum transfusi. Indikasi transfuse bila hb < 7g/dl, dengan target transfuse > 8g/dl (Murray et all., 2007).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar