FLU BURUNG
A. EPIDEMOLOGI
Penularan Flu burung (H5N1) pada unggas terjadi secara cepat dengan kematian tinggi. Penyebaran penyakit ini terjadi diantara populasi unggas satu pertenakan, bahkan dapat menyebar dari satu pertenakan ke peternakan daerah lain. Sedangkan penularan penyakit ini kepada manusia dapat melalui udara yang tercemar virus tersebut, baik yang berasal dari tinja atau sekreta unggas terserang Flu Burung. Adapun orang yang mempunyai resiko besar untuk terserang flu burung (H5N1) ini adalah pekerja peternakan unggas, penjual dan penjamah unggas.
DAFTAR KASUS
Kematian unggas indikator adanya flu burung:
| TANGGAL | Tempat KASUS |
| 19 Januari 1998 | flu burung marak di hongkong |
| 29 Agustus 2003 | Pekalongan, Jawa Tengah, dan mulai menyebar di sejumlah kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Timur |
| 22 Oktober 2003 | Banyumas |
| 19 November 2003 | Jawa Barat dan |
| 22 Desember 2003 | Wabah terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur diikuti wabah tetelo |
| 15 Januari 2004 | ASIA, (sudah menjangkit ke |
| 27 Februari 2004 | Kembali melanda Jawa Barat |
| 14 Maret 2005 | Sulawesi Selatan, mematikan ratusan ribu ayam |
Kematian Unggas Akibat Wabah Flu Burung di Indonesia (2004-2006)
| LOKASI | KEMATIAN UNGGAS |
| | 188.230 unggas |
| | 25.572 ayam buras dan burung puyuh |
| | 15.091 unggas |
| | 1.780 ayam |
| Kabupaten Batanghari, Jambi | 4132 ayam |
| | 343 ayam ras dan bukan ras |
| Kabupaten Kulonprogo | 73.641vayam ras dan bukan ras |
| Kabupaten gunung kidul | 2.652 ayam ras dan bukan ras |
| Kabupaten Sleman | 36.272 ayam ras dan bukan ras |
| Kabupaten Karanganyar | 93.500 burung puyuh, 930 ayam buras, dan 310 itik |
| Kabupaten Klaten | 400 ayam petelur dan 15.000 burung puyuh |
| Kabupaten Boyolali | 34.400 burung puyuh |
| Kabupaten Grobogan* | 48 ayam buras |
| Kabupaten Sragen* | 475 ayam buras, 13.450 burung puyuh |
| | 10.000 burung puyuh |
| Kabupaten Sukabumi | 500 ayam buras, 200 ayam pelung, dan 1.600 broiler |
| Kabupaten Indramayu | 8000burung puyuh dan 72 ayam buras |
| Kabupten Subang | Ratusan ayam |
Kasus Flu Burung Dalam Satu Keluarga
| TANGGAL | LOKASI | KASUS |
| 13-7-2005 | Serpong, Tangerang | Iwan Siswara bersama dua anaknya, Sabrina Nur Aisyah (8) dan Thalita Nurul Ajizah (1). Ketiganya meninggal dunia |
| 10-9-2005 | Pesanggrahan. | Rini Dina (37) dan keponakannya Hr(9), Rini meninggal dunia, sedangkan Hr dapat diselamatkan |
| 28-10-2005 | Cileduk, Tangerang | Ina Sholiati (19) dan adiknya Ik(9). Ina meninggal dunia, sedangkan Ik dapat diselamatkan |
| 28-2-2006 | Mojosongo, Boyolali | Hanif Cahya Fitri (12) dan adiknya Nanda Kurniawan (10). Keduanya meninggal dunia |
- PATOFISIOLOGI
Etiologi penyakit Flu Burung adalah penyakit yang disebabkan oleh virus influenza yang menyerang burung/unggas/ayam.Sifat virus ini, yaitu; dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 22°C dan lebih dari 30 hari pada 0°C.
Salah satu tipe yang perlu diwaspadai adalah yang disebabkan oleh virus influenza dengan kode genetik H5N1 (H=Haemagglutinin, N=Neuramidase) yang selain dapat menular dari burung ke burung ternyata dapat pula menular dari burung ke manusia. Kenapa?
Dikenal beberapa tipe antigenik Virus influenza, yaitu; tipe A, tipe B dan tipe C:
Tipe A : biasanya terdapat pada unggas, manusia, manusia, babi, kuda, anjing laut, dan ikan paus. Terdiri dari beberapa strain, yaitu; H1N 1, H3N2, H5N1, H7N7, H9N2 dan lain-lain
Tpe B dan C : hanya ditemukan pada manusia
Saat ini, penyebab flu burung adalah Highly Pothogenic Avian Influenza Viru, strain H5N1 (H=hemagglutinin; N= neuraminidase). Hal ini terlihat dari basil studi yang ada menunjukkan bahwa unggas yang sakit mengeluarkan virus Influenza A (H5N1) dengan jumlah besar dalam kotorannya. Virus Inluenza A (H5N1) merupakan penyebab wabah flu burung pada unggas. Secara umum, virus Flu Burung tidak menyerang manusia, namun beberapa tipe tertentu dapat mengalami mutasi lebih ganas dan menyerang manusia.
Penyebab flu burung adalah virus influenza tipe A . Virus influenza termasuk famili Orthomyxoviridae. Virus influenza tipe A dapat berubah-ubah bentuk (Drift, Shift), dan dapat menyebabkan epidemi dan pandemi. Berdasarkan sub tipenya terdiri dari Hemaglutinin (H) dan Neuramidase (N) . Kedua huruf ini digunakan sebagai identifikasi kode subtipe flu burung yang banyakjenisnya.
Pada manusia:
hanya terdapat jenis H1N1, H2N2, H3N3, H5N1, H9N2, H1N2,H7N7.
Pada binatang:
H1-H5 dan N1-N98. Strain yang sangat virulen/ganas dan menyebabkan flu burung adalah dari subtipe A H5N1.Virus tersebut dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 22 °C dan lebih dari 30 hari pada 0 °C. Virus akan mati pada pemanasan 60 °C selama 30 menit atau 56 °C selama 3 jam dan dengan detergent, desinfektan misalnya formalin, serta cairan yang mengandung iodin.
Penularan dari unggas ke manusia terjadi lewat kontak air liur dan kotoran unggas. Kontak itu terjadi lewat sentuhan langsung atau juga melalui kendaraan yang mengangkut hewan-hewan itu. Juga termasuk kandang, alat-alat peternakan, pakan ternak, pakaian, sepatu para peternak
Penularan Flu burung (H5N1) pada unggas terjadi secara cepat dengan kematian tinggi. Penyebaran penyakit ini terjadi diantara populasi unggas satu pertenakan, bahkan dapat menyebar dari satu pertenakan ke peternakan daerah lain. Sedangkan penularan penyakit ini kepada manusia dapat melalui udara yang tercemar virus tersebut, baik yang berasal dari tinja atau sekreta unggas terserang Flu Burung. Adapun orang yang mempunyai resiko besar untuk terserang flu burung (H5N1) ini adalah pekerja peternakan unggas, penjual dan penjamah unggas.
Dengan demikian, penularan di duga tidak langsung dari udara, tetapi virus flu burung dibawa lewat udara dan menempel pada benda-benda, lalu baru menular jika virus mengalami kontak dengan hospes yang peka. Adapun urutan terjadinya kontaknya sbb:
· virus melepaskan antigennya ke dlm tubuh manusia,
· Terjadi reaksi antigen dan antibodi dalam tubuh
· Tubuh bereaksi membentuk imun
· Virus flu burung mempunyai amplop, sehingga relatif sensitif bila terkena zat kimia yang mengandung lipid, seperti deterjen.
Hal lain, belum ada bukti terjadi penularan dari manusia ke manusia. Disamping itu, belum bukti adanya penularan pada manusia melalui daging unggas yang dikonsumsi
- GEJALA DAN TANDA
Masa Inkubasi
Pada Unggas : 1 minggu
Pada Manusia : 1-3 hari , Masa infeksi 1 hari sebelum sampai 3-5 hari sesudah timbul gejala. Pada anak sampai 21 hari
GEJALA PADA UNGGAS:
- Jengger berwarna biru
- Borok di kaki
- Kematian mendadak
- kerontokan bulu
- penrurunan produksi telur,
- pembengkakan di daerah kepala
- kelemahan
- gangguan respirasi
GEJALA KLINIS ( PADA MANUSIA ):
- Demam (suhu badan diatas 38 °C)
- lemas
- Pendarahan hidung dan gusi
- sesak nafas
- sakit kepala
- tidak nafsu makan
- muntah dan nyeri perut serta diare
- Batuk dan nyeri tenggorokan
- Radang saluran pernapasan atas
- Infeksi mata
- Nyeri otot Infeksi selaput mata (conjunctivitis)
- Dalam keadaan memburuk, terjadi severe respiratory distress, yakni sesak napas hebat, kadar oksigen rendah sementara kadar karbondioksida meningkat. Ini terjadi karena infeksi flu menyebar ke paru-paru dan menimbulkan radang paru-paru (pneumonia)
BERDASARKAN DEFINISI KASUS :
1. Kasus Observasi
Mengalami demam 38°C atau lebih disertai salah satu keadaan berikut:
· Batuk
· Radang tenggorokan
· Sesak nafas
Dengan pemeriksaan klinis dan laboratiumnya masih berlangsung
2. Kasus Suspek
Kasus suspek adalah seseorang yang menderita ISPA dengan gejala demam (temp > 38°C), batuk dan atau sakit tenggorokan dan atau ber-ingus serta dengan salah satu keadaan;
- seminggu terakhir mengunjungi petemakan yang sedang berjangkit klb flu burung
- kontak dengan kasus konfirmasi flu burung dalam masa penularan
- bekerja pada suatu laboratorium yang sedang memproses spesimen manusia atau binatang yang dicurigai menderita flu burung
- Kasus "Probable"
Kasus "probale" adalah kasus suspek disertai salah satu keadaan;
- bukti laboratorium terbatas yang mengarah kepada virus influenza A (H5N1), misal : Test HI yang menggunakan antigen H5N1
- dalam waktu singkat berlanjut menjadi pneumonialgagal pernafasan/ meninggal
- terbukti tidak terdapat penyebab lain
4. Kasus Kompermasi (confirm)
Kasus kompermasi adalah kasus suspek atau "probale" didukung oleh salah satu hasil pemeriksaan laboratorium;
- Kultur virus influenza H5N1 positif
- PCR influenza (H5) positif
- Peningkatan titer antibody H5 sebesar 4 kali
PEMERIKSAAN:
Pada pemeriksaan laboratorium sampel, kita membutuhkan darah (serum), apus tenggorokan, bilas tenggorokan, maupun kotoran (feses). Uji yang dilaksanakan saat ini umumnya:
1. Rapid Test : Alat ini berbentuk kotak kecil plastik yang di dalamnya tersapat kertas putih dengan kode C (Control) dan T(Test) yang sudah ditetesi dengan antibodi virus flu burung yang berperan mendeteksi antigen virus. Jika unggas terkena flu burung, antigen virus pada unggas terikatbdengan antibody yang ada dalam kertas, sehingga aka muncul dua garis vertikal pada area C dan T. Tes ini sering digunakan kebenrannya karena hasilnya sering bertentangan dengan PCR, yaitu uji yang dinilai sangat akurat untuk mendeteksi adanya virus flu burung. Kemudian, uji ini tidak dapat menunujkan tingakat patogenitas (kemampuan menyebabkan sakit) virus.
2. HI (Hemaglutinasi Inhibisi)
Alat ini utnuk melihat antibodi terhadap Hemaglutinin (H). Uji ini lebih sensitif daripada rapid test dan cukup murah, meskipun membutuhkan waktu lebih lama (sekitar 3 hari).
3 AGP (Agar Gel Preipitation)
Alat inn untuk melihat anti bodi terhadap Neuraminidase (N)
- VN (Virus Netralisasi)
Alat ini untuk mengetahui pembentukan antibodi
- Isolasi Virus
- PCR (Polimerase Chain Virus)
Alat ini untuk memastikan adanya virus influenza A subtipe H5N1. Metode masih jarang digunakan pada hewan. Uji ini sebenarnya sensitif dan akurasinya tinggi, tetapi karena pembiayaannya mahal, sehingga masih jarang dipergunakan
Pada manusia ,selain pemeriksaan laboratories di atas, ada pula pemeriksaan laboratories yang meliputi:
· Pemeriksaan darah lengkap meliputi pemriksaan Hb, hitung jenis leukosit, hitung total leukosit, trombosit, laju endap darah, albumin, globulin, SGPT, SGOT, ureum, kreatinin, kreatin kinase, serta analisis gas darah.
· Pasien pemeriksaan mikrobiologi meliputi Rapid Test, ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay)., dan pemeriksaan antigen (HI, IF/FA)
Lebih lanjut, manusia pasien flu burung melakukan pula foto toaks, yaitu pemotretan pada daerah dada.
D. TERAPI DAN PENCEGAHAN
Terapi
Perlu ditekankan bahwa belum ada obat yang efektif untuk penyakit flu burung. Penelitian terhadap obat yang diberikan pada penderita flu burung masih terus dilakukan.
Obat antiviral:
· Amantadin
· Rimantadin
· Oseltamivir (tamiflu)*
· Zanamivir
Obat antiviral tersebut sering digunakan pada pasien flu burung, tetapi sejumlah virus flu burung ternyata resistan, sehingga obat sering tidak dapat bekerja. Namun ternyata Tamiflu ternyata yang paling efektif , berfungsi mencegah perbanyakan virus, tetapi tidak dapat memeatikannya. Kemudian obat hanya berfungsi jika flu burung baru terjadi selama 48jam saat virus flu burung mengalami perbanyakan
Adapun tindakan yang dilakukan pada pasien yang menderita flu burung antara lain:
1. Pasien dirawat dlm ruang isolasi selama ± 7 hari untuk menghindari pnularan lewat udara. Meskipun sampai saat ini belum ada bukti kuat bahwa flu brurung menular dari manusia ke manusia, tetapi kita tetap harus mewaspadai penyebaran virus dan kemungkinan virus melakukan mutasi maupun “perkawinan” dengan virus fluburung subtipe lain dan dapat menular antarmanusia.
2. Pemberian oksigen jika terdapat sesak nafas yang mengarah kepada gagal nafas
3. pemberian infus dan minum yang banyak
4. pengobatan terhadap gejala flu seperti pemberian penurun panas dan penghilang pusing, dekongestan, dan antitusif
5. Amantadin dan rimantadin sebagai penghambat hemaglutinin pada awal infeksi (48jam pertama) selama 3 sampai 5 hari 5mg/kg BB per hari dibagi 2 dosis. Jika penderita mengalami penurunan fungsi hati dan ginjal, maka dosis harus diturunkan.
6. Pemberian oseltamivir pada 48 jam pertama selama 5 hari
· Untuk anak dengan BB :
kurang dari 15 kg sebnayak 30 mg 2 kali sehari
lebih dari 15-23 kg sebanyak 45 mg 2 kali sehari
lebih dari 23-40 kg sebanyak 60 mg 2 kali sehari
lebih dari 40 kg 75 mg 2 kali sehari
· lebih dari 13 tahun 75 mg 2 kali sehari
Pengobatan bagi penderita flu burung adalah:
- Oksigenasi bila terdapat sesak napas.
- Hidrasi dengan pemberian cairan parenteral (infus).
- Pemberian obat anti virus oseltamivir 75 mg dosis tunggal selama 7 hari.
- Amantadin diberikan pada awal infeksi, sedapat mungkin dalam waktu 48 jam pertama selama 3-5 hari dengan dosis 5 mg/kg BB perhari dibagi dalam 2 dosis. Bila berat badan lebih dari 45 kg diberikan 100 mg 2 kali sehari
Pencegahan
1. Biosekuriti
Adalah cara menangani ternak secara higienis. Cara meliputi semua tindakan yang merupakan pertahanan pertama untuk mengendalikan wabah dengan mencegah semua kemungkinan kontak penularan dengan peternakan yang tertular dan penyebaran penyakit.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, secara umum prinsip-prinsip kerja yang higienis, seperti:
· Mencuci tangan dan menggunakan alat pelindung diri -merupakan upaya yang harus dilakukan oleh mereka yang kontak dengan binatang, baik dalam keadaan mati, apalagi ketika hidup.
· Karena telur juga dapat tertular, maka penanganan kulit telur dan telur mentah perlu dapat perhatian pula.
· Daging unggas harus dimasak sampai suhu 70 derajat C atau 80 derajat C selama sedikitnya satu menit. Kalau kita menggoreng atau merebus ayam di dapur, tentu lebih dari itu suhu dan lamanya memasak. Artinya, sejauh ini bukti ilmiah yang ada mengatakan bahwa aman mengonsumsi ayam dan unggas lainnya asal telah dimasak dengan baik.
· Pola hidup sehat. Secara umum pencegahan flu adalah menjaga daya tahan tubuh dengan makan seimbang dan bergizi, istirahat dan olahraga teratur. Jangan lupa sering mencuci tangan. Pasien influenza dianjurkan banyak istirahat, banyak minum dan makan bergizi
Khusus untuk pekerja peternakan dan pemotongan hewan ada beberapa anjuran WHO yang dapat dilakukan:
· Semua orang yang kontak dengan binatang yang telah terinfeksi harus sering-sering mencuci tangan dengan sabun. Mereka yang langsung memegang dan membawa binatang yang sakit sebaiknya menggunakan desinfektan untuk membersihkan tangannya.
· Mereka yang memegang, membunuh, dan membawa atau memindahkan unggas yang sakit dan atau mati karena flu burung seyogianya melengkapi diri dengan baju pelindung, sarung tangan karet, masker, kacamata google, dan juga sepatu bot.
· Ruangan kandang perlu selalu dibersihkan dengan prosedur yang
· Pekerja peternakan, pemotongan, dan keluarganya perlu diberi tahu untuk melaporkan ke petugas kesehatan bila mengidap gejala-gejala pernapasan, infeksi mata, dan gejala flu lainnya.
Dianjurkan juga agar petugas yang dicurigai punya potensi tertular ada dalam pengawasan petugas kesehatan secara ketat.
2. Vaksinasi
Merupakan program pengebalan dengan memasukkan virus flu burung yang sudah dilemahkan atau dimatikan, untuk merangsang pembentukan antibodi melawan virus flu burng apabila suatu saat menyerang, berupa vaksin inaktif.
Untuk hewan yang telah terlanjur sakit sebainya jangan divaksin karena keamanannya tidak bisa dijamin
3. Depopulasi dan Stamping Out
Dengan cara memutus rantai penyebaran virus flu burung
Depopulasi : Pemusnahan selektif (depopulasi) adalah suatu tindkaan mengurangi populasi unggas yang menjadi sumber penularan penyakit. Tindakan ini dilanjutkan dengan prosedur diposal , yaitu prosedur untuik melakukan pembakaran dan penguburan terhadap bangkai unggas, telur, kotoran (feses), bulu, alas kandang, pupuk, dan pakan ternak yang tercemar serta bahan dan peralatan lain yang tercemar, tetapi tidak dapat didesinfeksi secara selektif
Stamping out : merupakan tindakan pemusnahan secara menyeluruh yaitu memusnahkan seluruh unggas yang sakit maupun yagn sehat pada peternakan tertular dan semua unggas yang berada dalam radius 1 km dari peternakan tertular.
Pada Unggas:
Pemusnahan unggas/burung yang terinfeksi flu burung
Vaksinasi pada unggas yang sehat
Pada Manusia:
Kelompok berisiko tinggi (pekerja peternakan dan pedagang):
Mencuci tangan dengan desinfektan dan mandi sehabis bekerja.
Hindari kontak langsung dengan ayam atau unggas yang terinfeksi flu burung.
Menggunakan alat pelindung diri. (contoh : masker dan pakaian kerja).
Meninggalkan pakaian kerja ditempat kerja.
Membersihkan kotoran unggas setiap hari.
Imunisasi.
Menggunkan obat antivirus
Masyarakat umum:
Menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan bergizi & istirahat cukup.
Mengolah unggas dengan cara yang benar, yaitu :
Pilih unggas yang sehat (tidak terdapat gejala-gejala penyakit pada tubuhnya) Memasak daging ayam sampai dengan suhu ± 800 °C selama 1 menit dan pada telur sampai dengan suhu ± 640 °C selama 4,5 menit.
Basuh tangan sesering mungkin, penjamah sebaiknya juga melakukan disinfeksi tangan (dapat dengan alcohol 70%, atau larutan pemutih/khlorin 0,5%untuk alat2/instrumen)
Lakukan pengamatan pasif terhadap kesehatan mereka yang terpajan dan keluarganya. Perhatikan keluhan-keluhan seperti Flu, radang mata, keluhan pernafasan.
- PROGNOSIS DAN PEMBERANTASAN
PROGNOSIS:
Pasien yang diobati tamiflu , 24% sembuh dan yang tidak diobati tamiflu, 25% sembuh
Pasien penderita flu burung dapat pulang setelah tidak mengalami demam, tidak batuk, terdapat perbaikan foto toraks, dan pemeriksaan laboratorium yang sebelumnya tidak normal menjadi normal. Satu minggu setelah pulang, pasien harus melakukan kontrol ke rumah sakit yang dirujuk.
Penanganan jenazah penderita flu brurung harus secara khusus pula yaitu ditutup dengan plastiatau bahan lain yang tidak tembus air seperti kayu atau bahan lain yang tidakudah tercemar dan tidak boleh desemayamkan lebih dari 4 hari
PEMBERANTASAN
Kebijakan Pemerintah:
1. Memberikan konpensasi bagi peternakan rakyat selama 6 bulan dari 29 Januari– 30 Juli 2004 berupa DOC dan Pakan.
2. Memusnahkan semua unggas yang terserang flu burung dengan cara dibakar.
3. Mengadakan vaksinasi bagi ayam atau ternak unggas yang masih sehat.
4. Melakukan tindakan biosekuriti (pengawasan secara ketat terhadap lalu-lintas unggas produk unggas dan limbah peternakan unggas) untuk daerah yang bebas flu burung
DAFTAR PUSTAKA
Akoso B.T.1993.Kesehatan Unggas. Penerbit Kanisius, Yogyakarta
Anonim. 2005. Avian Influenza: Assesssing the Pandemic Threat. World Health Organization. January 2005.29.
Anonim, 2005. Artikel dan Laporan tentang Perkembangan Kasus Flu Burung, www.deptan.go.id
Anonim, 2004. Flu Burung, www.infeksi.com
Anonim, 2006. Artikel tentang Flu Burung, www.depkes.go.id
Anonim, 2006. Penanganan Penderita Flu Burung (H5N1), www.imfeksi.com
Anonim, 2006. Pengendalian infeksi pada Perawatan Flu Burung, www.infeksi.com
Budi Tri A.2006. Waspada Flu Burung, Penyakit Menular pada Hewan dan Manusia. Penerbit Kanisius, Yogyakarta
Nurheti Y. 2006, Menyingkap Rahasia Penyakit Flu Burung. Penerbit Andi, Yogyakarta
Rangga Tabu C,2001. –enyakit Ayam dan Penanggulangannya, volume 1, Penerbit Kanisius, Yogyakarta
World Health Organization, 2005. Consultation on Human Influenza A/H5, Avian influenza A (H5N1) Infection in Human, New England Journal of Medicine.
World Health Organization, 2005. WHO Interim Guidelines on Clinical Management of Humans Infected by Influenza A (H5N1), www.who.int/csr/disease/avian influenza/guidelines/Guidelines Clinical %20 Management H5N1 ref.pdf.
World Health Organization, 2005. www.who.int/csr/disease/avian-influenza
.
.

Ion PERAK
BalasHapusIon PERAK adalah solusi yang sangat baik, submicroscopic partikel perak murni ditangguhkan dalam air oleh ion positif pada setiap butir dengan kekuatan yang lebih besar daripada gravitasi.
Berbagai Penyakit bisa disembuhkan ION PERAK, seperti Acne, rosacea, Anthrax, bacilli, arthritis, infeksi jamur kronis, keracunan darah, infeksi kandung kemih, yg berhubungan dgn penyakit pes plague, darah parasit (prematur dapat menyebabkan rambut abu-abu), kanker, Candida yeast infeksi, (sering pelopor dari sel-sel kanker), kedinginan, kolera , kelelahan kronis, radang usus besar, conjunctivitis, cystitis, infeksi kulit, kencing manis, difteri, eksim, fibrositis, radang perut, gonorea, hepatitis, virus herpes, demam hay, impetigo, influenza, keratitis, lepra, leukemia, lupus, penyakit Lyme, lymphagitis, malaria , meningitis, neurasthenia, ophthalmia, radang paru-paru, birsam "psorias, pymphagatis, rematik, rhinitis, kadas, demam berdarah, darah, sinanaga, kanker kulit, infeksi Staph, stomach flu, strep, sipilis, radang amandel, toxemia, parit kaki, trakom, tuberculosis, whooping cough.
Kesimpulan yang kami dapatkan program ini memberikan peluang bisnis luar biasa dan sangat-sangat besar sekali. Dengan atau Tanpa anda sekalipun, hampir tiap apotik maupun toko-toko obat akan memajang produk ini karena memiliki Fungsi yang sangat luas (Multi fungsi) sama halnya jika anda memiliki Perusahaan Farmasi yang memproduksi Ratusan macam Antibiotik dan berbagai macam Produk Obat generik, Vaksinasi, perawatan tubuh dsb... yang memiliki Ion Perak
ION PERAK aman bagi wanita hamil, perawatan dan kesembuhan terhadap penyakit , bahkan janin dalam pertumbuhan dan kesehatan.
ION PERAK adalah tanpa bau, tawar, tidak pedas, tidak berbahaya untuk mata, tidak ada radikal bebas, tidak berbahaya untuk manusia dan tidak memiliki reaksi dengan obat lainnya. Ion perak meningkatkan pencernaan, bantuan dalam regenerasi sel yang rusak dan sel-sel, membantu mencegah demam , flu dan penyakit yang disebabkan organisme baik bakteri , jamur ,parasit dan virus . penggunaan ion perak tidak membahayakan bakteri baik didalam pencernaan . Oleh karena itu, tidak menimbulkan mual atau tumbuhnya jamur yang biasanya pertumbuhan terlihat pada antibiotik farmasi.
Dicari Stockist ION PERAK diseluruh tanah air, peluang ini sangat bagus karena masih sangat sedikit jumlah stockist di tanah air
Adapun syarat dari stockist Ion Perak adalah :
1. Kota kecil 1 stockist.
2. Gratis ongkos kirim.
3. Modal awal Rp. 11,5 Juta.
4. Mendapatkan barang senilai 20 juta termasuk form member, barang 200 paket, plus brosur.
5. Fee stockist Rp. 2000 per paket.
Silahkan segera ambil peluang ini! Siapa cepat akan dapat!
Untuk mendaftar sebagai stokist, silahkan contact melalui sms ke: 08159927152 atau bisa pesan tertulis melalui e-Mail: omyosa@gmail.com